Tampilkan postingan dengan label Hartono Tasir Irwanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hartono Tasir Irwanto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2014

Mentalitas Pancasila Sebagai Solusi Problematika Bangsa

            Daoed Joesef pernah berkata bahwa tanah air itu terbagi 3; tanah air riil berupa geografis, tanah air formil berupa Negara dan tanah air mental berupa Pancasila.  Tanah air yang pertama dan kedua sangat bergantung pada tanah air mental. Dengan kata lain, wilayah geografis dan keadaan Negara Indonesia sangat bergantung pada implementasi Pancasila sebagai nilai yang menjadi dasar Negara. Pada kolom Opini Kompas, sabtu 10 Mei 2014 kemarin, Joko Widodo (Jokowi) sempat menuliskan solusinya atas problematika kebangsaan dewasa ini. Solusinya adalah Revolusi Mental.
           Pertanyaannya kemudian apakah memang mental kita sebagai bangsa yang perlu direvolusi? Jika tidak, lalu apa yang perlu direvolusi atau diperbaiki? Jika iya, berarti Pancasila sebagai tanah air mental harus membuktikan dirinya sebagai nilai dasar Negara yang dapat menjawab problematika kebangsaan. Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa saja problematika kebangsaan kita secara garis besarnya dan apa yang menjadi penyebabnya.

Faktor-Faktor Problematika Kebangsaan

            Problematika menurut Martin Heidegger adalah ketidakcocokan antara das sein (apa yang terjadi) dengan das sollen (apa yang seharusnya terjadi).  Analisis penulis, berikut adalah sebagian besar faktor yang menyebabkan terjadinya problematika kebangsaan. Diantaranya;

1)     Intoleransi karena Kedangkalan Spritualitas

     Laporan The Wahid Institute menyebutkan praktek intoleransi sepanjang tahun 2013 yang dialami kelompok agama minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, Protestan, Katolik, dan mereka yang dituduh sesat sebanyak 245 kasus. Hal ini diperparah oleh gagalnya Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama dibahas dalam program legislasi nasional di DPR 2010-2014.

2)     Defisit Moral
     
Setelah maraknya kekerasan terhadap umat beragama karena berbeda keyakinan hingga berdampak pada intoleransi, problematika bangsa kemudian ditambah dengan kekerasan secara fisik. Kenyataan itu tercermin dari maraknya pelecehan seksual, SARA, kejahatan geng motor hingga pembunuhaan akhir-akhir ini.

3)     Disintegrasi Bangsa

Disintegrasi bangsa adalah upaya untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa berpuluh tahun lamanya. Disintegrasi tersebut kemudian diorganisasikan secara separatis berupa pemberontakan untuk berpisah dari NKRI seperti yang pernah dilakukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan sampai sekarang diupayakan oleh beberapa masyarakat Papua yang menginginkan lepas atau katanya merdeka dari Indonesia.

4)     Krisis Kepemimpinan (Politik dan Hukum)

Reformasi yang diagung-agungkan sebagai simbol demokrasi Indonesia demi kepemimpinan yang lebih demoktatis dan menjauh dari tirani kekuasaan orde baru dan lama ternyata masih berpunggungan antara harapan dan kenyataannya. Faktanya, sejak era reformasi angka golput justru makin bertambah. Pemilu 1999 angka golput 10,21%, Pemilu 2004 naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Bandingkan dengan angka golput pada pemilu era Orde Lama dan Orde Baru (1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997) yang tak pernah lebih dari 10%.

Untuk Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah, angka golput juga tinggi. Pilpres 2004 angka golput 21,5%, Pilpres 2009 naik menjadi 23,3% (angka partisipasi pemilih Pilpres 2009 sebesar 72,09%). Angka golput pemilukada rata-rata 27,9%. Namun, hasil pemilu 2014 yang baru dirilis KPU baru-baru ini menunjukkan tren positif dengan meningkatnya partisipasi pemilih menjadi 75,11 %. Itu baru kepemimpinan politik, belum termasuk kepemimpinan hukum yang masih menyisakan problematika tersendiri yang tak kalah mencemaskannya. Lihat saja kasus suap hakim, polisi dan jaksa yang berujung pada tertangkap tangannya hakim Mahkamah Konsitusi; Akil Muchtar.

5)     Korupsi dan Pemiskinan

Berbicara mengenai problem bangsa, akal kita seakan-akan otomatis berpindah pada apa yang disebut sebagai korupsi. Penjarahan uang rakyat oleh pejabat pemerintah. Mulai dari menteri, kepala daerah hingga bank, semuanya tergiur dengan korupsi. Setali tiga uang, korupsi kemudian melahirkan anak kandung yang bernama pemiskinan. Bukan kemiskinan, tapi pemiskinan karena jumlahnya yang banyak dan telah menjadi masalah bangsa turun-temurun dan belum menemui jalan keluarnya. Padahal, jika dikelola dengan baik, sumber daya alam bangsa kita yang kaya ini tentulah cukup untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Mentalitas Pancasila sebagai Solusi Problematika Bangsa

            Dalam buku berjudul Negara Paripurna yang ditulis oleh Yudi Latif, disebutkan bahwa Pancasila merupakan proses penggalian secara mendalam dari apa yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Bukan ikut-ikutan bangsa lain. Maka sekarang, kita dengan bangga menyebut Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdiri pada kaki sendiri. Bukan bangsa fotokopi.  Ideologi murni Indonesia. Bukan ideologi kapitalis kanan, komunis kiri ataupun Islam. Pancasila merupakan lima Dasar Negara. Pertanyaan yang timbul kemudian, sejauh manusia mentalitas pancasila untuk menjawab problematika kebangsaan?

            Intoleransi disebabkan oleh kedangkalan spritualitas. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa meniscayakan kita sebagai bangsa Indonesia untuk menghargai keyakinan orang lain selama tidak mengganggu keyakinan orang atau kelompok lain. Dengan ego Tauhid, kita memahami bahwa kita semua adalah makhluk dan berasal dari Diri Yang Satu; Tuhan. Sementara, defisit moral terjadi karena kita lebih sering mendahulukan kepentingan diri di atas kepentingan sosial. Kita tidak memanusiakan manusia. Kita tidak menjalankan apa yang diamanatkan oleh sila kedua; kemanusiaan yang adil dan beradab (moral/etika).

            Sementara disintegrasi bangsa yang memicu perpecahan NKRI berawal dari paham sempit yang merasa suku atau daerah lebih unggul ketimbang suku, daerah atau bahkan bangsa Indonesia. Seandainya kita memahami sejarah, tentulah kita sadar bahwa kita lahir sebagai bangsa Indonesia atas perjuangan bersama melawan penjajahan yang kemudian menginspirasi para pejuang bangsa untuk mengikrarkan sila ketiga; Persatuan Indonesia. Bersatu untuk melawan pengaruh buruk dari pihak luar (Negative Nasionalism) dan bersatu untuk menawarkan yang baik dari dalam (Positive Nasionalism).

            Adapun krisis kepemimpinan baik dalam  segi hukum maupun segi politik tentukah menciderai cita-cita luhur demokrasi. Hal ini terbukti dari kasus suap hakim dan politik uang (Money Politic). Sila keempat sebenarnya telah menjawab solusi dari masalah ini berpuluh-puluh tahun lalu dengan mengutamakan musyawarah yang dipimpin oleh ia yang hikmat lagi bijaksana. Namun, kesejahteraan politik takkan bisa tercapai jika masih ada perut yang kosong. Dengan kata lain, kesejahteraan politik harus selalu berbarengan dengan  kesejahteraan ekonomi. Penerapan keadilan secara distributif (proporsional) dan komutatif (sama rata) kepada seluruh rakyat Indonesia merupakan solusi kelima yang ditawarkan oleh Pancasila.

Kesadaran Mental Pancasila adalah Kunci Kesadaran Bernegara dan Berwilayah

            Tanah air mental atau Pancasila adalah kunci untuk meransang kesadaran bernegara dan berwilayah. Wilayah geografis kita tak ada artinya jika tidak diatur oleh para pejabat Negara. Sementara pejabat Negara tidak dapat dikatakan Negarawan jika tidak bermental pancasila. Mental adalah jiwa atau watak dari suatu entitas. Maka, watak kita sebagai bangsa, tercermin dari sejauh mana kita menerapkan nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Baik dari kelima silanya maupun 45 butir Pancasila sebagai pedoman praktis dalam berbangsa. Inti dari Pancasila adalah gotong-royong atau kebersamaan. Menolak mentah-mentah paham individualis. Jadi, untuk dapat dikatakan berbangsa atau lebih luhurnya berindonesia, milikilah jiwa yang gotong-royong, jiwa kebersamaan.

Salam Pancasila!

Senin, 05 Mei 2014

Biografi Soekarno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia


Soekarno adalah salah satu, jika bukan satu-satunya orang indonesia yang paling berpengaruh di dunia. Ia dituduh komunis oleh para imperialis barat. Tapi benarkah dia adalah seorang komunis ? Ia juga difitnah sebagai kolaborator jepang. Mari kita simak biografi singkat Soekarno berikut yang merupakan ulasan buku Biografi Soekarno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karta Cindy Adams, wartawati asal Amerika.

Soekarno lahir saat fajar baru menyinsing, pada sebuah awal abad baru, abad yang penuh harapan setelah melalui abad-abad kelam, 1901-06-06 tepatnya. Ibunya adalah keturunan hindu budha asal bali. Sedang ayahnya berasal dari jawa dan  penganut  teosofie islam.   Soekarno menghabiskan masa SMA-nya di Surabaya dan tinggal di rumah teman akrab ayahnya, H.O.S  Tjokroaminoto. Kehidupan mudanya banyak  terhabiskan  di kamar kecil nan gelap hanya untuk membaca. Karena ia tahu pasti, ia tidak punya uang untuk main dan jajan seperti kebanyakan anak muda lainnya. Sebagai gantinya, Soekarno berdiri di atas meja kamar dan berpidato mengikuti cara Tjokroaminoto berpidato yang memang adalah seorang pemimpin politik. Tidak hanya meminjam gaya pidato Tjokroaminoto, Soekarno juga meminjam buku-bukunya, rumahnya dan pemikiran politiknya. Meskipun masih sangat muda, Soekarno sudah menjadi petinggi di organisasi-organisasi kepemudaan, Jong Java salah satunya. Di kamar yang sempit, pemikirannya menjadi sangat luas karena buku-buku yang ia baca. Soekarno menyelami buah pemikiran Karl Marx, Engels hingga Lenin dari rusia. Sampai-sampai Soekarno menguasai tujuh bahasa asing. 

Selasa, 22 April 2014

Kehidupan Setelah Mati


  
   Mati adalah sebuah kepastian yang akan dialami oleh setiap yang bernyawa (QS. an Nisa: 78). Tinggallah bagaimana Kita menyikapi kematian itu. Kematian adalah rahasia Tuhan, disamping jodoh dan rezeki. Kita datang dari sisi Tuhan dalam keadaan suci, sudah seharusnya kita kembali ke hadirat-Nya dalam keadaan suci pula. Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij Al-salikin memaparkan proses at-tamhis (proses pembersihan) dalam tiga tahap. Di dunia, di alam barzakh dan terakhir di alam akhirat. Inilah indikator, betapa besar kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya, hingga-hingga disucikannya kita sebanyak tiga kali. Garis besarnya ada dua:

 I.   Sebelum Kematian
   Dalam Perspektif Sufi, kematian terbagi atas dua. Kematian yang pertama adalah kematian alami. Yaitu kematian yang semua manusia mengalaminya. Sedang kematian yang kedua adalah kematian irady. Kematian yang belum tentu semua manusia mengalaminya.  Mematikan ego, atau lebih sederhananya: perbaikan akhlak. Seperti sabda Rasul Saw. : “ Mutu qabla antamutu “, Matilah kamu sebelum Mati. Jadi, sebelum kematian jasadi, Kita harus membunuh ego kebinatangan Kita. Sebagai ganti perbaikan amal. Untuk apa? Karena amal perbuatan Kita di dunia sekarang akan  berpengaruh pada dunia selanjutnya.  Untuk menyadari perilaku, Kita harus memahami tujuan dan konsekuensi perilaku tersebut. Jawabannya ada pada;


Minggu, 20 April 2014

Fatimah az-Zahra


Ibu adalah tiang bangsa, begitu kata Nabi Saw. Betapa tidak, dari rahim ibulah lahir putra-putri penerus masa depan bangsa. Jika ibunya mulia, mulia pula masa depan bangsa tersebut. Dan sebaliknya. Jika ibunya abai, terabaikan pula masa depan bangsa. Semua ibu kandung para Nabi pastilah ibu-ibu yang mulia. Bagaimana dengan Nabi Muhammad Saw yang ditinggal wafat oleh ibunya sejak masa balita? Siapakah yang memberikan kasih sayang ibu kepada Beliau Saw?

Setelah ditinggal wafat oleh ayahnya saat Muhammad Saw. masih dalam kandungan, ia ditinggal wafat oleh ibunya saat balita. Setelah ibunya meninggal, ia diasuh oleh kakeknya. Setelah ditinggal wafat oleh kakeknya saat masih kanak-kanak, ia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib ayah Ali bin Abu Thalib hingga beliau Saw. menikah dengan Khadijah pada usia  beliau Saw. yang ke-25 tahun. Praktis, kasih sayang ibu sebelum beliau Saw. menikah justru ia dapatkan dari kakek dan pamannya yang notabenenya lelaki.

Pasca meninggalnya Khadijah sesaat sebelum peristiwa hijrah ke Madinah, tidak ada lagi perempuan yang memberikan kehangatan ibu pada beliau Saw. kecuali anaknya sendiri, Fatimah Az-Zahra. Dialah putri yang membasuh luka Beliau Saw. sepulang perang. Dialah putrid yang menunggu kepulangan ayahnya di pintu gerbang. Dialah putri yang menangis ketika ayahnya dihina oleh pemuka kaum Qhuraisy. Dialah yang memberikan kelembutan perempuan khas ibu kepada ayahnya. Dialah ibu bagi ayahnya.

Rabu, 16 April 2014

Midas Touch


            Apa tugas utama seorang pengusaha? Menciptakan lapangan pekerjaan dengan kuantitas sebanyak mungkin dan dengan kualitas sebaik mungkin. Kalau memang semulia itu, siapa lagi yang tidak ingin menjadi pengusaha? Bukan itu masalahnya! Masalahnya adalah beberapa orang hanya bermimpi jadi pengusaha. Walhasil, usahanya mandek di tengah jalan, kalau bukan bangkrut.  Orang seperti itu bukan pengusaha, mereka hanya pemimpi. Lalu bagaimana sejumlah pengusaha menjadi kaya raya, sementara sebagian besar lainnya justru bangkrut?

            Di tengah-tengah zaman dengan tingkat pengangguran yang tinggi, siapa yang tidak membutuhkan lapangan perkerjaan? Ironisnya, permintaan lapangan pekerjaan (sedikit) tidak berbanding lurus dengan sarjana cetakan perguruan tertinggi (banyak). Akhirnya, pengangguran bagaikan jamur di musim hujan. Hanya pengusahalah yang dapat memanfaatkan jamur tersebut menjadi pundi-pundi uang.  Hanya karakter pengusaha yang dapat menjadi win-win solution. Mari kita simak pesan dari pengusaha sekaliber Donald Trump dan Robert Kiyosaki untuk menjadi pengusaha, bukan pemimpi;

Minggu, 23 Maret 2014

Agar Siapa Saja Melakukan Apa Saja Untuk Anda

Hidup ini penuh persaingan. Syaratnya hanya satu, bersainglah secara sehat. Kita tidak sedang berbicara tentang strategi manipulative. Tapi bagaimana mendapatkan pengaruh melalui faktor-faktor psikologis. Soekarno pernah berkata; “Aku terlahir untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan“. Faktanya, 90 % dari keputusan yang  kita ambil didasarkan pada emosi atau perasaan. Kita lalu menggunakan logika untuk membenarkan tindakan-tindakan hasil dari keputusan berdasar emosi tersebut. Mempengaruhi seseorang bukanlah menentang konsep diri setiap orang. Melainkan menawarkan konsep diri yang lebih universal. Jika keliru, mari kita perbaiki atau tinggalkan. Tapi Jika benar, dengan besar hati kita mesti jalankan bersama.
 
Tenangkan Hati Anda

Pribadi yang percaya diri tidaklah perlu memamerkan kepada dunia betapa hebat dirinya, tetapi membiarkan dunia tahu dengan sendirinya. Jika kita tak mampu mengatur apa yang ada pada diri, maka kita akan diatur oleh apa yang ada di luar dari kita. Tenangkan hati Anda. Rileksasi dengan menarik nafas dalam-dalam, tahan dan hembuskan dengan tenang. Lakukan yoga untuk lebih tenang. Persis seperti yang dikatakan filsuf china, Lao Tse; “Wanita menaklukkan pria dengan ketenangan“. Tersenyumlah, karena senyum mengandung 4 hal penting. Kepercayaan diri, kebahagiaan, antusiasme dan penerimaan. Penelitian membukktikan bahwa tersenyum benar-benar bisa membuat kita tenang dan santai. Lalu gunakan bahasa positif dan sikap positif agar Anda terpersepsi positif. Setelah itu baru;

Selasa, 11 Maret 2014

Working Smart


Sudah nonton Superman; Man of Steel? Sudah tahu juga kan, kalau Kal si superman itu bukan manusia planet bumi  seperti kita? Kecuali jika Anda merasa manusia super yang berasal dari planet lain, tak mengapa Anda mengerjakan segala hal seorang diri. Tapi kalau tidak dan pasti tidak, maka Anda harus dapat bekerja sama secara tim jika Anda ingin lekas berhasil dalam melakukan suatu hal. Lucu saja ketika Anda yang menjadi penyerang, bertahan, pelatih sekaligus kiper dalam sebuah tim sepakbola. Bahkan permainan atau olahraga seindividual golf, membutuhkan orang lain untuh meraih kesuksesan atasnya. Minimal pelatih. Kita adalah makhluk sosial. Dalam bidang apapun, baik itu mencari pasangan hidup atau dalam hal bisnis, kita membutuhkan mitra kerja yang Andal. Tapi sayangnya, tidak sedikit penipuan bisnis terjadi karena mitra yang diajak kerjasama ternyata tidak dapat diandalkan. Tidak semua orang dapat dijadikan mitra. Dan tidak semua mitra dapat diandalkan. Sederhananya, inilah langkah mencari mitra kerja yang andal;

1. Memiliki Tujuan yang Sama

Apa jadinya jika dua orang penumpang becak memiliki dua tujuan yang berbeda dalam satu becak? Tukang becak yang setengah mati. Jika Anda tidak ingin bisnis Anda setangah mati seperti tukang becak tadi, temukan mitra kerja yang satu tujuan dengan Anda. Dengan begini, sewaktu-waktu bila bisnis Anda agak menyimpang atau jalan di tempat, Anda dapat saling mengingatkan untuk kembali ke jalur dan melanjutkan perjalanan agar lekas sampai pada tujuan. Tetapkan tujuan dengan mantap dan tukang becakpun akan lebih semangat mengayuh becaknya.

Senin, 03 Maret 2014

Revolusi Harapan


 
   Ditengah-tengah kita ada hantu, ujar Erich Fromm, bukan hantu masa kuno seperti fasisme atau komunisme, tapi hantu yang memaksa kita untuk dimesinkan secara total dan menuntut kita untuk terus memproduksi dan harus mengkomsumsi. Mesin itu bernama komputer. Tujuannya akan berujung pada komputerisasi manusia. Manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri, apalagi dengan alam dan Tuhan. Mesin tersebut dibangun seolah perkasa, hingga mendikte kebebasan manusia. Mesin yang tumbuh bak kanker. Bukan tidak mungkin, ianya perlahan akan membunuh peradaban.

Problematika Manusia Mesin

         Problematika atau masalah, menurut Martin Heidegger adalah ketidak-sesuaian antara das sein (apa yang seharusnya) dan das sollen (apa yang ada). Kita sedang diseret dan dibentuk untuk menjadi konsep manusia baru. Manusia tanpa komputer adalah bukan manusia. Kita berhenti menjadi manusia. Sebagai gantinya, kita dipaksa menjadi mesin yang tidak berpikir, tidak berperasaan. Hingga terciptalah sebuah konsep mega mesin. Sebuah mesin raksasa, dimana manusia sebagai partikel-partikelnya. Pada akhirnya, jurang dehumanisasi semakin menganga lebar. Membuat manusia hilang sisi kemanusiaannya. Untuk menjadi manusia seperti ini, mereka hanya memerlukan dua hal; produksi dan komsumsi. Dengan slogan di dahi mereka : Lebih banyak adalah lebih baik.

Minggu, 02 Maret 2014

Terampil Mendengarkan

        Hasil penelitian menginformasikan bahwa manusia menggunakan waktunya 40 % untuk mendengar,  35 % untuk berbicara,  16 % untuk membaca dan 9 % untuk menulis. Hasil tersebut adalah indikator betapa pentingnya kemampuan mendengarkan. Hal ini juga berarti keterampilan mendengarkan menopang keterampilan-keterampilan lainnya. Ironisnya, kurikulum pendidikan kita masih abai terhadap keterampilan yang satu ini.  Mendengarkan bukan sekadar mendengar biasa. Mendengarkan adalah memperhatikan secara serius apa yang dikatakan lawan bicara, termasuk anggota tubuh dan jauh dari sikap kepura-puraan. Sedangkan mendengar adalah tertangkapnya sebuah pembicaraan oleh telinga baik disengaja maupun tidak. Biasanya, kita hanya mendengar, tapi tidak mendengarkan. Persis seperti Adagium inggris; You hear me but you don’t listen to me.

Sebagian besar orang tidak berniat serius mendengarkan. Sikap mendengarnya hanyalah reaksi logis dan konsekuensi dari percakapan saja. Akibatnya, yang timbul hanyalah bantahan dan perdebatan belaka. Kesalahan yang sering dilakukan para pendengar adalah buru-buru memvonis apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Seperti menyanggah :  “aku tahu apa yang akan engkau katakan“ , atau biasa juga “Engkau akan mengatakan ini kan?!“. Hal ini menimbulkan kesan tidak baik. Satu-satunya cara memperoleh manfaat terbaik dari perdebatan adalah menghindarinya, kata Dale Carnegie.

Kamis, 20 Februari 2014

Hanya Dua Menit; Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda

Kesederhanaan si kaya adalah pilihan bersikap. Jelas, bahwa sederhana adalah gaya hidup, bukan jumlah uang.  Kaya adalah banyak kepemilikannya. Terlepas itu kaya materi, ilmu atau apa saja. Maka yang paling kaya tentulah Tuhan. Mencari kekayaan bukan berarti tergila-gila akan kekayaan, apalagi "menuhankan kekayaan". Kayalah sekaya-kayanya, asalkan kita sanggup mempertanggungjawabkan  darimana dan kita apakan kekayaan tersebut. Banyak yang kaya tapi tidak jelas titik awal (darimana) dan titik akhir (kemana) kekayaannya. Seperti Qarun dan hartanya. Belakangan disebut harta karun. Sosok teladan orang kaya yang soleh dan sederhana adalah Nabi Muhammad Saw. dan Nabi Sulaiman as. Tapi perjalanan untuk menjadi si kaya yang soleh dan sederhana itu tak mudah. Hal pertama yang harus kita berantas hingga tuntas adalah mental miskin yang ada pada masyarakat, terlebih pada diri kita sendiri.

Selasa, 18 Februari 2014

Meraih Kebahagiaan

Apakah kebahagiaan itu? Apakah kekayaan, kesuksesan, keindahan fisik berbanding lurus dengan kebahagiaan? Mari kita elaborasi satu-persatu;

Apakah Kekayaan Menjamin Kebahagiaan?

Penelitian Ed Diener, Psikolog dari University of Illinois, menginformasikan kepada kita bahwa dari 100 orang terkaya yang dicatat Forbes hanya sedikit yang mengatakan bahwa mereka bahagia dari rata-rata orang pada umumnya. Sebagian besar mengatakan uang telah membuatnya menderita. Tidak sedikit cerita tentang seorang jutawan yang mewariskan hartanya justru pada orang yang tak dikenalnya. Ini membuktikan bahwa kekayaan justru membuatnya hilang kepercayaan bahkan pada orang-orang terdekatnya. Semua orang dilihatnya hanya ingin berteman karena harta yang ia miliki. Tidak ada ketulusan. 

Senin, 17 Februari 2014

Zona Bebas Gosip

Apakah kita bisa hidup tanpa gosip? Sebelum menjawabnya, mari kita simak survei yang dilakukan Equisys pada Juli 2002. Mereka menemukan bahwa gosip kantor membuang 65 jam produktif karyawan dalam setahun. Itu baru gosip kantor. Belum lagi gosip rumah, warkop hingga gosip jalanan. Manusia memang membutuhkan komunikasi. Sayangnya, komunikasi yang kita bangun seringkali membicarakan sisi negatif seseorang. Baik sisi negatif seseorang tersebut benar adanya atau hanya persangkaan kita belaka. Maka jangan heran, jika gosip, fitnah, hasud serta dusta akan selalu mengerogoti kehidupan komunikasi kita. Kita jadi "kegatalan" dengan setiap komunikasi yang ada. Seperti bunyi peribahasa China ;" Apa yang dibisikkan di telinga seseorang, sering kali terdengar hingga ratusan mil. "

Dari China, bergeser sedikit ke Korea Selatan. Sudah pernah nonton film Old Boy? Film korea yang satu ini berbeda dengan film korea pada umumnya yang cengeng dan mendayu-dayu. Film tersebut berhasil masuk dalam 250 Top IMDB. Pesan film tersebut adalah betapa gosip dapat merusak bahkan membunuh kemanusiaan. Jika gosip sudah beredar, sulit untuk menariknya kembali.


Jumat, 14 Februari 2014

The Magic of Love


   
   Simposium Plato mengisahkan bahwa dahulu kala manusia merupakan makhluk kombinasi antara pria dan wanita yang bernama manusia Androgini. Saking utuh dan kuatnya, nenek moyang Kita tersebut berani melawan para dewa. Keangkuhan manusia membuat para dewa geram dan berniat memusnahkannya. Pertanyaannya kemudian, jika dewa membunuh manusia, siapa lagi yang akan memuja dan mempersembahkan baginya korban? Ganti rencana, Zeus hendak membelah dua manusia dengan meminta bantuan kepada Apollo untuk membuat lukanya tak terlihat. Manusia Androgini yang telah terbelah, dipisahkan dalam dua arah yang berbeda. Hingga, manusia sibuk untuk mencari belahan jiwanya yang lain. Jika telah menyatu dengan belahan jiwanya tersebut, mereka akan utuh kembali

Sama seperti kisah Plato diatas, Kita adalah pribadi yang terbelah dan sedang usaha untuk menemukan kembali dan terhubung dengan belahan jiwa yang lain. Sebuah pertanyaan dari Sigmun Freud berbunyi; Apa yang diinginkan pria pada wanita? Dan sebaliknya, apa yang diinginkan wanita pada pria? Jawabannya sama dan satu, “ hubungan yang harmonis “. Antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya membutuhkan keterhubungan. Kita terlahir dari Hubungan, terluka oleh Hubungan dan dapat disembuhkan oleh Hubungan. Yang membuat hubungan renggang dan enggan adalah Kita jua. Hubungan jadi tidak seimbang ketika salah satu dari pasangan memaksakan kehendaknya. Pasangan Anda adalah manusia yang berdiri bebas, bukan perpanjangan diri Anda, fotocopy atau bayangan Anda. Kita harus saling memahami dan saling berempati.

Kamis, 13 Februari 2014

21 Hukum Kepempinanan Sejati

Apa perbedaan pemimpin dengan ketua, penguasa, bos dan sebagainya? Mengapa belakangan ini banyak diselenggarakan latihan kepemimpinan? Apakah bangsa kita krisis kepemimpinan? Atau malah kebanyakan pemimpin? Berikut ini adalah pelajaran yang saya pilah dan pilih dari buku 21 Hukum Kepempinanan Sejati karya John Maxwell.

Pada Mulanya; Pemikiran Pemimpin

Tidak ada yang namanya terlahir secara alami sebagai pemimpin. Itu karena dia lahir dari orangtua yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar. Entah itu diwariskan melalui gen atau kebiasaan-kebiasaan yang dicontohi sang anak dari orangtuanya. Entah itu orangtua kandung atau orangtua angkat/pengasuh. Satu-satunya pola berpikir benar untuk menjadi pemimpin adalah melatihnya dengan belajar mengenai kepemimpinan. Lakukanlah sesuatu berdasarkan skala prioritas. Karena tidak semua kegiatan termasuk prestasi.  Kita harus rela berkorban demi peningkatan. Benar kata  Gerald Brooks; “ Jika Anda menjadi pemimpin, Anda kehilangan hak untuk memikirkan diri sendiri. “ Tanggung jawab kita bertambah, sementara hak kita berkurang. Pilih skala prioritas tersebut menggunakan pemikiran, bukan berdasar perasaan.